Kenneth Mathieson Dalglish, itulah nama lengkap pria yang lahir di Glasgow, 4 maret 1951 ini. Ia akan dikenang sebagai sosok figur yang begitu lengkap menjadi ikon klub sepanjang masa. Ia tidak hanya sukses semasa berkarir sebagai pemain namun juga hebat sebagai pelatih disertai curriculum vitae gelar-gelar bergengsi. Atas prestasinya tersebut, klub menjulukinya dengan gelar “King”.
Memulai karir juniornya di Cumbernauld United dan diteruskan di Glasgow Celtic, ia kemudian menjadi legenda klub terhebat kedua setelah Glasgow Rangers di daratan Skotlandia itu dengan meraih empat gelar liga dan empat piala FA sebelum ditransfer ke Liverpool pada 1977. Bermain sebagai second striker, King Kenny menjadi andalan Bob Paisley dalam meraih gelar kejayaan di Inggris dan Eropa. Tercatat sembilan gelar liga dan tiga gelar liga champions menjadi koleksinya. Gelar Liga Champions keduanya pada 1977/1978 merupakan momen spesial karena The Reds juara berkat golnya. Yang unik tiga gelar liga terakhir diraihnya dengan status pemain merangkap manajer.
Semasa menjadi pelatih, bisa dibilang Kenny Dalglish hanya meneruskan kerja brilian dari duo Bob Paisley dan Joe Fagan. Meski sukses di liga domestik, namun kejayaan klub bisa dibilang hancur setelah tragedi Heysel dimana Liverpool kalah oleh Juventus plus kehilangan momen berlaga di Eropa lima musim berikutnya. Belum hilang trauma atas tragedi Heysel, ia menjadi saksi atas tragedi berikutnya di Hillsborough yang mengakibatkan 94 orang meninggal.
Setelah meraih tiga gelar liga dan dua piala FA sebagai manajer bermain, ia pergi di akhir musim 1989/1990 pada usia 39 tahun untuk melanjutkan karir di Blackburn Rovers. Kepergiannya menjadi era kegelapan bagi klub karena puasa gelar liga selama 23 musim meski sukses meraih liga champions 2005 dan Piala UEFA 2001. Di Blackburn, tangan dinginnya meraih sukses dengan gelar liga lima musim kemudian pada 1994/1995 meski berbau keberuntungan karena Manchester United meraih hasil seri sedangkan klub yang diasuhnya mengalami kekalahan. Puas di Blackburn, ia melanjutkan karir di Newcastle United dengan menjadi kompetitor hebat The Red Devils dua musim beruntun (1995/1996 dan 1996/1997) dan meraih satu gelar liga di mantan klubnya yang lain, Glasgow Celtic pada 1999/2000 sebelum kembali ke Liverpool pada 2011.
Periode kedua di The Reds dilalui dengan cukup lumayan dengan meraih kemenangan-kemenangan penting yang membuat klub bertengger di papan tengah pada akhir musim 2010/2011. Musim berikutnya ia menanamkan ideologi untuk percaya pada pemain Britania Raya dengan membeli Stewart Downing, Jordan Henderson dan Charlie Adam. Namun iklim liga yang sudah dipenuhi dengan pemain-pemain asing terutama Spanyol membuat prestasi klub merosot hingga terpaku di posisi 8 di akhir musim. Meski begitu, gelar Piala Carling dan runner-up piala FA berhasil disabetnya sebelum lengser. Kesuksesanya sebagai pemain legendaris membuatnya meraih gelar Member of British Empire pada 2009.
Penghargaan Gelar Ksatria
Setelah bertahun-tahun diabaikan, Dalglish akhirnya dianugerahi gelar Sir oleh Ratu Inggris pada 2018 ini. Dalglish masuk dalam daftar orang-orang yang dianugerahi gelar oleh Ratu Elizabeth dalam acara Queen Birthday Honours 2018. Selain Dalglish yang mendapat gelar Sir, ada beberapa figur penting lain di Inggris yang juga akan dianugerahi gelar oleh Sang Ratu dalam acara tersebut. Beberapa di antaranya adalah nama yang cukup tenar, seperti pesepak bola Jermain Defoe (OBE), aktris Keira Knightley (OBE), dan aktor Tom Hardy (CBE). Yang menarik, gelar Sir untuk Dalglish itu tidak dia dapatkan karena prestasinya sebagai pesepak bola semata. Lebih dari itu, Dalglish dinilai layak mendapat gelar ksatria karena jasa-jasanya untuk masyarakat, terutama lewat lembaga amalnya. "Dia adalah manajer Liverpool ketika tragedi Hillsborough terjadi pada 1989 silam. Dengan ikhlas, dia membantu keluarga-keluarga korban tragedi tersebyut, menghadiri pemakamannya, berkunjung ke rumah sakit tempat korban dirawat, dan selalu menghadiri serta mendukung momen perayaan acara tersebut di Anfield. Atas jasanya itu, dia juga pernah mendapat gelar Freedom of the City of Liverpool," demikian bunyi kutipan pengumuman resmi Queen Birthday Honours 2018.
Bersama istrinya, Marina Dalglish, dia juga membuka yayasan Marina Dalglish Appela, badan amal yang membantu para penderita kanker. Dia juga ikut membentuk Centre of Oncology di University Hospital, Aintree, pada 2007 silam, dengan dana sumbangan awal mencapai 1,5 juta poundsterling, dan bertambah sampai 10 juta poundsterling sampai sekarang," lanjut pernyataan tersebut. Selama mengabdikan diri untuk Liverpool, baik sebagai pemain maupun manajer, Dalglish sudah menyumbang banyak gelar untuk Liverpool. Sebagai pemain, dia sukses menyumbang 6 gelar Football League Division One (sebelum era Premier League) serta 4 gelar European Cup (sebelum era Liga Champions) untuk Liverpool. Sedangkan sebagai manajer, Dalglish sukses mengantarkan Liverpool menjuarai Division One sebanyak tiga kali, yakni pada 1985/86, 1987/88, serta 1989/90. Dia menjadi manajer terakhir yang berhasil mengantarkan Liverpool merengkuh trofi Liga Inggris.
Menyoal gelar Sir yang diraih oleh Dalglish ini, David Prentice, kolumnis Liverpool Echo, mengungkapkan bahwa hal itu adalah sesuatu yang pantas Dalglish dapatkan. Hal itu semacam sebuah pengakuan atas apa yang sudah Dalglish lakukan di Merseyside. Tidak hanya soal sepak bola, tapi juga atas perjuangannya menguak kebenaran dalam tragedi Hillsborough. "Sebagai pemain maupun manajer, Dalglish sudah memberikan yang terbaik untuk Liverpool. Ketika bermain, dia menunjukkan permainan kelas dunia yang belum terlihat lagi sampai saat ini. Sebagai manajer, dia juga mencatatkan pencapaian historis dengan membawa Liverpool juara liga tiga kali," ujar Prentice. "Namun, kegiatannya di luar lapangan juga adalah sesuatu yang tak boleh dilupakan. Ketika para korban dari tragedi Hillsborough dilanda trauma, dia adalah orang yang siap sedia untuk selalu memberikan bantuan. Hal inilah yang membuat namanya selalu dikenang sebagai pembawa senyum di Merseyside," tambahnya. Apa yang Dalglish capai ini, pada dasarnya, adalah hasil yang dia tuai dari sesuatu yang sudah dia tanam sejak lama. Setidaknya, pengakuan itu sekarang tidak hanya datang dari Liverpool saja, tapi juga dari Inggris Raya.
Honours
Player
Celtic
Scottish Division One/Premier
Division: 1971–72, 1972–73, 1973–74, 1976–77
Scottish Cup: 1971–72,
1973–74, 1974–75, 1976–77
Scottish League Cup: 1974–75
Liverpool
Football League First
Division: 1978–79, 1979–80, 1981–82, 1982–83, 1983–84, 1985–86
FA Cup: 1985–86
Football League Cup: 1980–81,
1981–82, 1982–83, 1983–84
FA Charity Shield: 1977
(shared),[102] 1979,[103] 1980,[104] 1982,[105] 1986 (shared)
European Cup: 1977–78,
1980–81, 1983–84
European Super Cup: 1977
Individual
Ballon d'Or runner-up: 1983
IOC European Footballer of
the Season: 1977–78
PFA Players' Player of the
Year: 1982–83
FWA Footballer of the Year:
1978–79, 1982–83
English Football Hall of Fame
(Player): 2002
Scottish Football Hall of
Fame: 2004
FIFA 100: 2004
European Hall of Fame
(Player): 2008
Manager
Liverpool
Football League First
Division: 1985–86, 1987–88, 1989–90
FA Cup: 1985–86, 1988–89
Football League Cup: 2011–12
Football League Super Cup:
1986–87
FA Charity Shield: 1986
(shared),[106] 1988,[114] 1989,[115] 1990 (shared)
Blackburn Rovers
Premier League: 1994–95
Football League Second
Division play-offs: 1992
Celtic
Scottish League Cup:
1999–2000
Individual
FWA Tribute Award: 1987
Premier League Manager of the
Season: 1994–95
Premier League Manager of the
Month: January 1994, November 1994
Orders
Member of the Order of the
British Empire: 1985
Knight Bachelor: 2018
Referensi:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar